GELAS
Itulah yang kukerjakan. Mengumpulkan gelas
Kembali. Sambil mengenangkan bahwa bibir
Lembut telah menyentuh tepinya. Kuhapus
dengan
Pelan-pelan sebagai meraba yang halus,
Takut ia terkejut. Ah,
jari-jariku terlalu
Kasar rasanya. Pelan-pelan
kudekatkan ke
Bibirku. Aneh! Gelas itu selalu
menghilang.
Kacanya
melunak dan mengabur bersama bayang.
Bayang. Ia selalu menolakku.
0 comments: