Senja berkabut dikaki gunung merapi,
napak tilas para penjaja mega-mega mulai sampai pada ambang batas,
bunyi-bunyi nafas tak beraturan terdengar dari kejauhan,
bersahutan dengan tetes peluh yang mengucur bagai hujan,
sembari menggotong pacul dengan baju penuh noda bahkan lumpur,
atau bahkan menjinjing nampan-nampan yang bahkan masih bersisa,
dengan muka masam berhias tawa yang tak seberapa,
walau hanya untuk mengantongi modal di akhir senja,
satu,dua,tiga...
sembari terus melanjutkan menghitung,
dengan wajah memelas pada Tuhan,
dengan langkah gontai bergerak pada pelabuhan.
"Rifalfi Hamdi"
napak tilas para penjaja mega-mega mulai sampai pada ambang batas,
bunyi-bunyi nafas tak beraturan terdengar dari kejauhan,
bersahutan dengan tetes peluh yang mengucur bagai hujan,
sembari menggotong pacul dengan baju penuh noda bahkan lumpur,
atau bahkan menjinjing nampan-nampan yang bahkan masih bersisa,
dengan muka masam berhias tawa yang tak seberapa,
walau hanya untuk mengantongi modal di akhir senja,
satu,dua,tiga...
sembari terus melanjutkan menghitung,
dengan wajah memelas pada Tuhan,
dengan langkah gontai bergerak pada pelabuhan.
"Rifalfi Hamdi"
0 comments: